ROMANTIKA DODOL BETAWI : SOLUSI ‘JOMBLO’ NEMU JODOH

“Ah… Dodol Lu! Masa udah kepale tige masih blom ade nyang mau!” celoteh pria paruh baya kepada rekannya, diikuti gelak tawa sore hari ditemani kupi dan dodol betawi, terbungkus kertas warna-warni.

LaDodol2zimnya, kudapan khas Betawi berwarna cokelat kehitaman itu disajikan menyambut  Idul Fitri. Ada kalanya pula sebagai serahserahan pengantin pria. Namun mau diserahkan pada siapa, kalau pasangannya saja belum ada (*piss ‘Blo’:D).

Kombinasi tepung beras dan tepung ketan yang dicampur menentukan kekenyalan dari dodol yang akan dibuat. Dicampur gula merah yang membuatnya berwarna coklat, dimanisi gula pasir sesuai selera. Untuk rasanya bisa ditambahkan vanili atau duren.
Dimasak diatas Kawa (penggorengan besar) dengan api sedang. Inilah yang membuat Dodol Betawi dimasak penuh dengan kesabaran. Bila tidak cermat bisa-bisa dodol berubah menjadi “batu kali”, menjadi hitam gosong dan mengeras.

Dodol Betawi sering dikatakan sebagai ‘kue gotongroyong’, karena mulai dari pengadaan bahan, persiapan hingga memasaknya melibatkan banyak orang. Bahan-bahannya tergolong mudah didapatkan di pasar tradisional. Sudah menjadi turimages3un temurun pembagian tugas seperti menggiling tepung (‘nepung’) dan ‘Ngeduk’ setengah encer (koleh) merupakan tugas anak-anak gadis atau kaum perempuan. Bilamana telah mengental maka pekerjaan dilanjutkan oleh kaum lakilaki sampai dodol matang dan diangkat.

Proses mengeduk (ngaduk) membutuhkan waktu yang lama, antara 8-12 jam tanpa henti dengan menggunakan pengaduk (gelo). Sebuah ajang unjuk ‘endurance’ bagi laki-laki. Tak hanya tenaga, tapi juga butuh keterampilan khusus untuk mengaduknya (agak
setengah memasang “kuda-kuda” silat). Selain itu kudu cermat mengamati api. Kawa yang ditopang tiga gedebong pisang ukuran besar, dipanasi kayu bakar
yang harus selalu dijaga panasnya. Jangan sampai terlalu panas dan mengeluarkan asap. Api yang terlalu besar akan membuat dodol gosong dan masak tidak rata. Asap dapat menyerap dalam dodol dan membuat rasanya tidak enak, dodDodol1ol menjadi ‘sangit’. Dodol yang sudah masak dituang di nampan atau tampah untuk didinginkan. Wanita
melakukan tugas akhir memotong dodol jadi kecilkecil dan membungkusnya.

Sudah jarang ‘sambatan’ membuat dodol kita temui di daerah ibu kota. Di Kampung Tengah kawasan Condet, acara semacam i n i masih dijaga kelestariannya. Walaupun Kue Dodol banyak dijual di pasar maupun di toko-toko penjual Kue, bilamana dibuat dengan penuh kebersamaan dan bumbu romantika kaum mudanya, rasanya akan berbeda. Tak heran, Dodol Betawi juga dikenal sebagai “Kue Cari Jodoh”. Siapa tahu jodoh kamu ditangan dodol, blo😀

 

12092009_017 12092009_018 12092009_016 12092009_015 12092009_008 12092009_013 12092009_005 12092009_004

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s