Condet Punye Cerite : Kawasan Elite Betawi Jaman Baheula & Kompor Meleduk

Condet KiniSadarkah warga Jakarte, lebih khususnya warga Condet, kalau di peta DKI Jakarta modern sekarang ini, tidak ada bilangan yang dikasih nama Condet ? Bak nama tokoh atau pahlawan nasional, cukup dikenal sebagai nama untuk dikenang, dan untuk mengenangnya dipampanglah  aksara JL. CONDET RAYA  diatas papan hijau yang ditopang disebuah tiang.

Ya, hanya sebuah jalan raya.

Dalam sebuah artikel yang tersimpan di Perpustakaan Universitas Bibliotheek Leiden, tertera pembagian Wilayah Condet antara era abad XV hingga XIX menjadi 3 wilayah besar. Condet Hilir, Condet Udik dan Condet Girang. Wilayah-wilayah tersebut, merupakan kesatuan-kesatuan masyarakat yang masing masing mempunyai peran sosial yang menopang fungsi-fungsi kemaslahatan masyarakat Condet yang di era tersebut masih sangat kuat memegang teguh budaya luhur Padjadjaran “Silih Asah, Silih Asih Lan Silih Asuh”. Keteguhan para leluhur Condet yang senantiasa memperjuangkan pelestarian budaya tersebut memicu kekhawatiran tersendiri bagi Begawan Belanda. Bahwasanya budaya luhur tersebut menjadi ancaman laten bagi kepentingan Kolonial.

Propaganda demi propaganda dilancarkan. Tujuannya untuk mengikis budaya luhur tersebut. Dengan menyusupkan ide-ide ketidakpedulian, individualisme akan satu sama lain dalam kebhinekaan masyarakat Condet. Akhirnya masyarakat Condet terfragmentasi menjadi satuan-satuan primordialis etnis dan satuan-satuan relijius. Terbukti, setiap faksi yang berada dalam masyarakat Condet mempunyai kultus masing masing atas tokoh yang dihormatinya. Yang kini kita dapat lihat begitu banyak nama tokoh yang diabadikan menjadi nama jalan-jalan di Kawasan Condet. Padahal keberadaan nama-nama seperti Batu Alam, Batu Ampar dan Bale Kambang memberikan gambaran, bahwa kawasan ini tadinya merupakan sebuah kesatuan yang memiliki  ketahtaan.

1740-batavia_robert-sayer_circa-1740

Devide et Impera, nyata menghantui kawasan “elite” berperadaban maju (jauh lebih maju jauh sebelum adanya Batavia) nan diberikan berkah geografis yang strategis. Condet berdampingan dengan sodetan Kali Ciliwung dan terbentuk diketinggian kaki Gunung Salak. Ke-“Elite”-an kawasan  ini dapat disetarakan dengan sentra bisnis strategis di pusat kota, ataupun kawasan hunian mewah di selatan DKI Jakarta di jaman modern. Sebutlah bilangan Jakarta Kota, Tj. Priok, Jatinegara, Matraman, Pulo Gadung maupun Grogol, saat Condet memasuki masa jayanya, bilangan-bilangan tersebut masih berupa rawa-rawa, parit. Bahkan kawasan Kelapa Gading dan Sunter hanya sesekali terlihat menjadi daratan, yaitu saat kemarau tiba.

Jelas, Belanda tidak mau kehilangan pos keamanan bermenara yang bisa mengawasi lalu lintas Ciliwung dan sekaligus memiliki pandangan lepas memantau kapal-kapal dagang yang merapat di Teluk Jakarta/Sunda Kelapa. Para Kaum pedagang datang dari berbagai penjuru Nusantara dan dunia, menghidupkan kawasan Condet menjadi sebuah sentra bisnis yang ramai di era itu. Bukan hanya buah dan hasil bumi endemik saja, tapi berbagai bentuk pertukaran ekonomis lain juga terjadi. Jual beli tanah salah satunya. Mengingat tanahnya yang subur dan letaknya yang strategis, menarik minat para tuan tanah untuk memilikinya untuk keperluan bercocok tanam, maupun kegiatan perniagaan. Sebuah fakta yang menarik, dokumen tanah saat itu di wilayah hulayat penjajahan Belanda menyisakan surat partikelir dengan istilah For Founding (Surat Tuan Tanah/Garap) yang ditulis dalam bahasa belanda, namun tidak ditemukan di Condet. Justru yang ada adalah surat kepemilikan tanah yang disebut “Kikitir”, yang dituliskan dalam Bahasa Sunda.

Tidak kalah penting, ke-elite-an Condet juga mashyur diantara para ‘mujahid’ yang singgah dari Cirebon, Banten dan Bogor hingga mujahid dari seluruh Nusantara. Masih ada persinggahan-persinggahan para ‘mujahid’  yang bisa kita temui di daerah yang dulu disebut semenanjung Condet Girang di daerah Balekambang. Ada pula para ‘mujahid’ yang berjalan melalui jalan darat. Mereka biasanya mengawali perjalanannya  dari Condet Hilir yang kini kita kenal dengan Al-Hawi hingga Dewi Sartika. Dahulu tempat tersebut disebut sebagai Kampung Keramat yang jalannya terbagi menuju Pondok Gede dan Kampung Kranggan. Jalur tersebut kini kita kenal dengan Jalan Raya Bogor. Daerah yang disebut-sebut sebagai Condet Udik  sendiri adalah, jalur Ciliwung arah tanjung Barat menuju Keradenan Depok.

Pada abad XIX, sudah banyak terdapat makam leluhur, tokoh, mujahid yang ada disekitar Condet Girang, Condet Hilir dan Condet Udik. Tak sedikit tokoh/leluhur yang menyandang sebutan Datu’ atau Ki. “Datu’” disandang oleh pemangku adat asal, beliau dituakan karena pemahaman dan pengetahuan sosial, religi serta spritualitasnya menjadi panutan, bahkan tempat bertanya dan mencari kebijaksanaan. Sementara sebutan “Ki” berarti pemuka agama. Kini makam-makam tersebut menjadi situs-situs ziarah bagi para mujahid modern yang masih menyinggahi Condet.

Selain situs ziarah, masih banyak situs bersejarah Condet yang tersisa dan menyimpan banyak cerita mulai dari masa prehistoris (sebagaimana temuan artefak di bantaran Ciliwung Condet Girang yang telah diamankan di musium Keramik Jakarta) dan cerita perlawanan terhadap kolonial dari situs-situs yang dulunya menjadi landmark kawasan Condet. Salah satu situs yang menyimpan cerita-cerita perlawanan terhadap kedzoliman penguasa Hindia Belanda adalah Gedung disebut sebagai Vila Nova atau Groeneveld, tapi masyarakat Condet menyebutnya Gedung Ki Dek’le.

Gedung Ki Dekle ini dibangun tahun 1756 dan menjadi saksi bisu tirani penguasa Hindia Belanda hingga perlawanan masyarakat Condet bersama Haji Entong Gendut di tahun 1916. Sebagaimana situs-situs lain yang sudah mulai dilupakan, gedung tersebut tinggal reruntuhan. Hangus terbakar akibat ledakan kompor dari rumah warga sekitar.

Sumber : SaurAbah.Com

2 thoughts on “Condet Punye Cerite : Kawasan Elite Betawi Jaman Baheula & Kompor Meleduk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s