Masihkah Radio Menjadi Sumber Utama Mendengarkan Lagu?

Masihkah radio menjadi sumber utama mendengarkan lagu?

Perkenalan saya dengan radio dimulai saat saya masih sekolah dasar, memang bukan musik yang menjadi ‘intrest’ pertama saya. Jaman dulu, di Radio Prambors Jakarta, ada sandiwara radio “Catatan Si Boy”. Saat itulah saya suka mendengarkan radio. Lanjut hingga saya beranjak remaja, “Morning Show” Ida Arimurti dan Krisna Purwana tidak pernah lepas mengantar saya berangkat sekolah, dari jokes2 jenakanya hingga lagu2 yang menjadi airplay pada jaman itu. Saya menjadi semakin ‘intens’ mendengarkan lagu-lagu di Radio Prambors, manakala ada kuis “Dan Gan Sensation” Hanya dengan menebak potongan-potongan beberapa lagu, kita bisa mendapat hadiah Mobil Mitshubishi Dan Gan. Sesuatu yang sangat ‘wah’ pada saat itu (sekarang juga mewah sih. Anehnya mengapa kuis-kuis sejenis ini sudah tidak ada lagi? Sekarang saya siap kalau ada kuis2 macam itu, dengan segala tools audio/song recognition apss macam Shazam dan Spotify. Ayo adain lagi dong! Mulai Maksa…hahahaha). Selain itu, ada masanya saya mendengarkan radio SK, karena acara “Opor Ayam” Bagito (Miing, Unang, Didin) dan Hai Rock, dimana Nugie menjadi hostnya. Habis baca Majalah Hai, liat chart Hai Rock-nya langsung pantengin acaranya. Besoknya janjian sama temen-temen SMP buat cari kasetnya.

Anyway, saat itu tidak ada tempat selain radio untuk mendengarkan hits-hits terbaru mancanegara dan Indonesia. Habis dengar TOP 40 chart, saya langsung menuju Duta Suara, di jalan sabang untuk mencari lagu2 yang saya suka. Disana tampak, foto copy-an chart radio-radio Jakarta. Buat album-album yang sudah release biasanya ditandai dengan ‘stabillo’.  Biasanya saya beli album yang sudah ada walau hanya satu hits yang saya suka. Sebagai catatan, di era 90’an,Mix tape adalah sesuatu yang sering diperjual-belikan, di pertukarkan bahkan sering kali dipersembahkan sebagai hadiah buat pacar atau kecengan. Tak jarang  banyak tersedia jasa pembuatan ‘mix tape’. Langganan saya di Pasar Ampera, daerah Kampung Ambon, Jakarta Timur, Kode Pos 13210. (<— kebiasaan nulis kartu pos, buat kuis dimajalah Bobo dan Donal Bebek, walau nggak pernah sekalipun menang).

Dikala itu, belum banyak yang punya tape double deck, yang bisa merekam satu kaset, ke kaset lain. Walhasil, saya berusaha keras merekam lagu2 yang saya suka dari compo kamar saya direkam ke tape deck punya ‘bokap’ diruang tamu. Hanya bermodalkan satu kaset C-90 kita bisa mendapatkan 1,5 jam non-stop hits playing, hanya lagu2 yang kita suka dan mau kita dengarkan. Kadang isinya bukan hanya lagu dari album-album yang saya miliki, tapi terselip juga hasil saya “membajak” hits baru dan saya suka dari radio. Saat itu, saya selalu kesal kalau penyiar ‘ngomong’ saat lagu belum habis. Sampai akhirnya saya siaran.

Seiring waktu berjalan, saya pindah ke Bandung. Tidak ada radio di Bandung yang saya pernah dengar, belum tahu radio apa yang saya suka, mana yang musiknya pas buat saya, terlebih penyiarnya belum ada yang saya pernah dengarkan. Saya coba frequensi yang saya familiar saat saya di Jakarta. Voila, terdengarlah suara (Alm.) Nuke Wulandari dan Zulfan Firdaus dengan celoteh dan jokes segarnya di Rase FM. Lagu2nya tidak semuda di radio yang gelombanganya sama di Jakarta, tapi semangat muda (Ya, waktu itu saya yakin mereka masih muda🙂 ) kedua penyiar ini membuat saya ‘stay-tune’ di radio tersebut, mendengarkan ‘Classic hits’ di kategori Adult Contemporary. Walaupun kini saya tahu, secara demografis target audiens mereka  memang Usia 20 – 39 Tahun.

Darah muda saya saat itu bergejolak🙂 , saya pun mencari radio yang lebih sesuai dengan umur, karena saya tetap ingin ‘keep up’ dengan lagu-lagu baru yang sedang hits, sebagaimana yang juga teman-teman saya dengarkan di Jakarta. Terngiang saat itu adalah era-nya Killing Me Softly-Fugees, Wannabe – Spice Girls, Dance Into The Light – Phil Collins, Quit Playing Games – Backstreet Boys, Lemon Tree – Fool’s Garden dan yang paling hits saat itu adalah Oasis dengan Wonderwall dan Don’t Look Back In Anger. Ada 2 radio dimana saya bisa menemukan lagu2 itu, 103 FM Oz Radio dan 105.8 Ardan Hi-Tech FM. Yes, dua radio anak muda Bandung yang saling “berseteru” disaat itu.

Menarik sekali, banyak juga lagu2 yang tidak saya dapat dengarkan di Jakarta, tapi di Ardan atau di Oz saya bisa dengarkan. Dan pertanyaan saya, “Koq, Radio2 ini bisa ya dapat lagu2 baru? Nggak kalah sama Jakarta.”

Kita takkan tahu asinnya laut kalau belum ‘nyempung’. ‘Nyemplung’ lah saya, PLUNG!. Pantai tempat saya mengawali perjalanan mengarungi samudra lagu di tahun 1996 adalah  Hanggarnya Anak Muda Mangkal 105.8 Ardan Hi-Tech FM. Disinilah saya mencoba untuk membedah ‘Kotak Hitam’ pengumpulan materi lagu hingga pengudaraannya. Dalam struktur organisasi radio, orang yang paling bertanggung jawab untuk hal ini adalah ‘music director’ sering kali disingkat MD.

MD adalah juru kunci dari setiap pemutaran lagu yang diudarakan di radio. Lagu-lagu diputar berdasarkan program acara waktu siar dan kebutuhan lainnya. Dan lagu juga merupakan “Senjata Ampuh” untuk menarik pendengar yang beragam, yang mana banyak pendengar semacam saya yang selalu ingin teraktualisasi pengetahuan lagunya dengan lagu-lagu baru. Dimana tiap radio bersaing untuk mendapat materi lebih dahulu dari radio lain. Dan memang ternyata eksklusivitas lagu merupakan salah satu ukuran kesuksesan MD radio.

Untuk radio-radio yang berformat Top 40 Radio (Hits Player ataupun Hits Maker) Kebutuhan akan lagu-lagu dalam dan luar negeri di ‘supply’ oleh Label Rekaman (record label). Radio dan Label Rekaman adalah partner yang tak terpisahkan, music director berkebutuhan meng- ‘up-date’  library nya dan Label Rekaman mempromosikan barang dagangannya. Namun skema ini belum  menjawab pertanyaan saya sebelumnya, “Koq, Radio2 ini bisa ya dapat lagu2 baru? Nggak kalah sama Jakarta.”

Ternyata, beberapa radio pada jaman ‘dollar’ masih 2ribuan, tidak hanya mengharapkan kiriman materi lagu internasional dari Record label saja yang notabene berdomisili di Jakarta. Beberapa radio, termasuk Ardan, berlangganan kompilasi lagu2 ‘promotional’ langsung dari Amerika. Sebutlah HitDisc, RadioExpress dan lain sebagainya, yang dikirimkan setiap bulannya, sehingga radio-radio tersebut selalu punya materi lagu-lagu baru, hits hits yang sedang di promosikan di Amerika dan Eropa, yang belum di ‘service’ oleh representasi label Internasional di Indonesia. Dengan demikian, para pendengar radio-radio tersebut dimanjakan dengan lagu-lagu yang hanya bisa mereka dengarkan di radio tersebut.  Menurut info, hanya tinggal satu radio anak muda di Indonesia yang masih berlangganan HitDisc.

Di tahun 1997, industri rekaman Indonesia memasuki era baru, dimana ‘internasional record label’ mulai berdiri sendiri dan memproduksi rekaman artis-artis lokal. Mereka disebut 5 Majors Sony Music Entertainment Indonesia, Warner Music Indonesia, EMI Indonesia,  Polygram, BMG Entertainment. Merekalah yang mendistribusikan banyak artis-artis luar negeri ke Indonesia dan kala itu mereka mulai memproduksi artis2 Indonesia. Seperti artis internasionalnya, ‘treatment’ promo artis lokal jadi semakin terperhatikan. Bahkan bisa dikatakan, musik Pop Indonesia memasuki masa keemasan setelah mereka masuk ke Indonesia. Hal ini juga tidak terlepas dari peran radio yang kian memberikan tempat khusus untuk lagu Indonesia. Rating program-program khusus request lagu berbahasa Indonesia pun menjadi salah satu primadona rating SRI di tahun-tahun itu.

Lagu Indonesia atau lagu mancanegara adalah salah satu daya tarik radio untuk didengarkan. Ada beberapa daya tarik lain yang saling bersinergi dengan musik yang diputarkan. Penyiar, informasi komersial, Info aktual, Info Jalan Raya, kuis yang menjanjikan hadiah atau bahkan sekedar kesempatan berinteraksi agar suaranya mengudara walau via telepon, dan lain-lain. Radio bisa membentuk ikatan batin dengan pendengarnya lewat “ramuan-ramuan” program yang disajikannya, sehingga radio bisa “menyihir” pendengarnya untuk ‘stay tune’ atau bahkan melakukan hal lain yang diinfokannya.

Lagu merupakan bagian dari “ramuan” itu.  Dalam memberikan konteks, peranan lagu sangatlah penting. Lagu membuka simpul simpul emosi pendengar agar “ramuan” tersebut efektif, mengantar hingga pesan yang ingin disampaikan (apakah personal ataupun komersial) sampai pada prilaku yang diharapkan. Efek ini juga dapat ber ‘impact’ pada lagu tersebut. Lagu tersebut semakin diperkaya konteks penggunaannya oleh penyiar-penyiar yang memutarkannya, sehingga pendengar yang tadinya hanya selewat mendengarkan lagu tersebut dapat mengasosiasikan sebuah konteks dengan lagu yang ia dengarkan saat disajikan dalam sebuah program acara radio.

Radio dan musik akan senantiasa bersinergi.

3 thoughts on “Masihkah Radio Menjadi Sumber Utama Mendengarkan Lagu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s