ROMANTIKA DODOL BETAWI : SOLUSI ‘JOMBLO’ NEMU JODOH

“Ah… Dodol Lu! Masa udah kepale tige masih blom ade nyang mau!” celoteh pria paruh baya kepada rekannya, diikuti gelak tawa sore hari ditemani kupi dan dodol betawi, terbungkus kertas warna-warni.

LaDodol2zimnya, kudapan khas Betawi berwarna cokelat kehitaman itu disajikan menyambut  Idul Fitri. Ada kalanya pula sebagai serahserahan pengantin pria. Namun mau diserahkan pada siapa, kalau pasangannya saja belum ada (*piss ‘Blo’:D).

Kombinasi tepung beras dan tepung ketan yang dicampur menentukan kekenyalan dari dodol yang akan dibuat. Dicampur gula merah yang membuatnya berwarna coklat, dimanisi gula pasir sesuai selera. Untuk rasanya bisa ditambahkan vanili atau duren.
Dimasak diatas Kawa (penggorengan besar) dengan api sedang. Inilah yang membuat Dodol Betawi dimasak penuh dengan kesabaran. Bila tidak cermat bisa-bisa dodol berubah menjadi “batu kali”, menjadi hitam gosong dan mengeras.

Dodol Betawi sering dikatakan sebagai ‘kue gotongroyong’, karena mulai dari pengadaan bahan, persiapan hingga memasaknya melibatkan banyak orang. Bahan-bahannya tergolong mudah didapatkan di pasar tradisional. Sudah menjadi turimages3un temurun pembagian tugas seperti menggiling tepung (‘nepung’) dan ‘Ngeduk’ setengah encer (koleh) merupakan tugas anak-anak gadis atau kaum perempuan. Bilamana telah mengental maka pekerjaan dilanjutkan oleh kaum lakilaki sampai dodol matang dan diangkat.

Proses mengeduk (ngaduk) membutuhkan waktu yang lama, antara 8-12 jam tanpa henti dengan menggunakan pengaduk (gelo). Sebuah ajang unjuk ‘endurance’ bagi laki-laki. Tak hanya tenaga, tapi juga butuh keterampilan khusus untuk mengaduknya (agak
setengah memasang “kuda-kuda” silat). Selain itu kudu cermat mengamati api. Kawa yang ditopang tiga gedebong pisang ukuran besar, dipanasi kayu bakar
yang harus selalu dijaga panasnya. Jangan sampai terlalu panas dan mengeluarkan asap. Api yang terlalu besar akan membuat dodol gosong dan masak tidak rata. Asap dapat menyerap dalam dodol dan membuat rasanya tidak enak, dodDodol1ol menjadi ‘sangit’. Dodol yang sudah masak dituang di nampan atau tampah untuk didinginkan. Wanita
melakukan tugas akhir memotong dodol jadi kecilkecil dan membungkusnya.

Sudah jarang ‘sambatan’ membuat dodol kita temui di daerah ibu kota. Di Kampung Tengah kawasan Condet, acara semacam i n i masih dijaga kelestariannya. Walaupun Kue Dodol banyak dijual di pasar maupun di toko-toko penjual Kue, bilamana dibuat dengan penuh kebersamaan dan bumbu romantika kaum mudanya, rasanya akan berbeda. Tak heran, Dodol Betawi juga dikenal sebagai “Kue Cari Jodoh”. Siapa tahu jodoh kamu ditangan dodol, blo :D

 

12092009_017 12092009_018 12092009_016 12092009_015 12092009_008 12092009_013 12092009_005 12092009_004

Megadeth In Concert : And The Punishment Is Due

Reblogged from Bajangbiru's Blog:

Click to visit the original post

“ Dave Mustaine masih membuktikan dirinya rocker dengan sensitivitas politik seorang demonstran”

Senayan Jakarta Kamis 25 Oktober 2007 . Ada yang berbeda dari pemandangan di kawasan Senayan sore itu. Waktu seakan ditarik mundur dua dekade ke belakang. Diatas aspal yang masih becek , berderap langkah langkah puluhan sosok ber t –shirt hitam bergambar band rock cadas. Sosok klasik seseorang dengan rambut sepunggung , jeans robek dengkul , kaos metal hitam , dan sepatu boot yang kini sudah jarang ditemui , seakan kembali nyata di sore itu .

Read more… 907 more words

Suka sekali saya dengan tulisan Bung Tirta tentang Megadeth, padahal kan Bung Tirta mirip Kirk Hammett :)

Bila Tiba – Ungu (OST. Sang Kyai)

Image

                klik disini buat dengar lagunya –>Download_on_iTunes_Badge_ID_110x40_1109

Saat tiba nafas di ujung hela
Mata tinggi tak sanggup bicara
Mulut terkunci tanpa suara

Bila tiba saat berganti dunia
Alam yang sangat jauh berbeda
Siapkah kita menjawab semua pertanyaan?

Bila nafas akhir berhenti sudah
Jantung hatipun tak berdaya
Hanya menangis tanpa suara

Mati
Tak bisa untuk kau hindari
Tak mungkin bisa engkau lari
Ajalmu pasti menghampiri

Mati
Tinggal menunggu saat nanti
Kemana kita bisa lari
Kita pasti kan mengalami

Composed by : Sigit “Pasha Ungu” Purnomo
Performed by : Ungu
Piano & Strings by : Edu Kristianto & Achoy
Cello : Wawan Cello
Recorded at : Musica Studio’s
Engineered by : Rizal Gani
Mixed by : Arief Rinaldi
Mastered by : Gabriel Temmy

Apa yang seperti musik, tetapi yang bukan musik?

What is musicMusik adalah salah satu misteri ilmiah yang besar yang belum terpecahkan. Meskipun sebagian besar dari kita tahu apa yang dikatakan musik dalam pengertian subyektif, tidak satupun dari kita benar-benar tahu apa itu dalam arti obyektif. Telah ada kebangkitan “Music Science” dalam beberapa dekade terakhir, tetapi ilmu pengetahuan modern masih sangat awam tentang apa musik, apa artinya (jika ada) dan mengapa kita menanggapi dengan cara yang kita lakukan.

Philip Dorrell mempunyai teori yang disebut teori “super-stimulus”nya . Asumsi dasar teori ini adalah bahwa persepsi musik benar-benar persepsi sesuatu yang lain. Ini mengarah ke pertanyaan: “Apa yang seperti musik, tetapi yang bukan musik?”, Dan satu-satunya jawaban yang masuk akal untuk pertanyaan itu adalah “pidato” (coba dengerin lagu dari album Random Access Memories – Daft Punk ada lagu yg judulnya “Giorgio By Moroder” bisa jadi gambaran) . Oleh karena itu, “musikalitas” harus menjadi aspek yang dirasakan berbicara, dan musik adalah “super-stimulus” atau stimulus “ultra-normal”  bagi  musikalitas.

Berdasarkan pada asumsi ini, Dorrell menganalisis aspek individu musik. Dia mengasumsikan bahwa setiap aspek merupakan super stimulus untuk peta kortikal yang sesuai, di mana setiap peta kortikal seperti melakukan tugas tertentu dalam persepsi pidato. (Pada titik ini dalam analisis, ada asumsi tertentu dibuat tentang apa yang “musikalitas” arti atau yang hanya mewakili.) Beberapa penemuan penting dibuat selama analisis ini. Salah satunya adalah bahwa adalah mungkin untuk menyesuaikan perbedaan nyata antara karakteristik pidato dan musik, termasuk bahwa musik  memiliki nada yang bisa muncul secara simultan (yakni harmoni) sedangkan berbicara tidak, juga bahwa melodi musik didasarkan pada tangga nada sedangkan “melodi”  pidato biasanya terus menerus sama, dan juga bahwa irama musik sangat teratur serta hirarkis, sedangkan “ritme” pidato  sebagian besar tidak teratur.

Yang kedua adalah pentingnya simetri musik, khususnya penterjemahan invarian ketepatan nada dan invarian skala waktu , yang keduanya menyiratkan implementasi kompleks yang dibangun ke dalam “pidato” otak (dan musik) mesin persepsi.

Ketiga, dan mungkin yang paling signifikan, karena tampaknya menunjukkan jalan untuk menemukan makna “musikalitas”, adalah bahwa “pola aktivitas konstan” terjadi dalam peta kortikal ketika menanggapi musik, tetapi tidak ketika menanggapi pidato.

Dalam bukunya What is music?: solving a scientific mystery (2005), Philip Dorrell menyertakan  beberapa analisis isu-isu tambahan, termasuk terjemahan invarian oktaf  (yang dianggap sebagai salah satu dari enam simetri), kalibrasi (terjemahan invarian ‘pitch’, dan invarian analog skala waktu) dan repetisi.

Tahap akhir dalam analisis ini adalah upaya untuk mengembangkan penjelasan yang masuk akal untuk pentingnya pola aktivitas konstan, dan mengapa mereka menyebabkan pendengar untuk merasakan efek emosional musik. Sebuah hipotesis (yang agak spekulatif) adalah bahwa pola aktivitas konstan dalam otak pendengar adalah pengulangan (echo) pola aktivitas konstan di otak pembicara, dan bahwa pola aktivitas konstan di otak pembicara merupakan indikasi tingkat  ” gairah kesadaran ” pembicara. Arti yang tepat dari “ gairah kesadaran “ tidak pasti, tetapi dianggap sesuatu yang melibatkan perubahan moda atas daerah besar otak (yang berkaitan dengan peningkatan kekonstanan pola aktivitas), dan yang mencerminkan beberapa aspek kondisi mental cenderung akan menarik bagi orang lain. Respons emosional musikalitas dirasakan terjadi pada asumsi bahwa jika pembicara secara sadar terangsang dan isi pidato mereka emosional, maka pendengar harus memahami isi pidato tersebut  lebih serius (di mana asumsi ini berlaku telah “terprogram” ke otak kita oleh evolusi).

Sebuah bab terakhir dalam buku tersebut berspekulasi kalau pemahaman ilmiah musik tersebut akan memiliki dampak pada “industri” musik yang ada. Dimana, di masa depan nanti, daripada membeli musik digubah oleh komposer atau penulis lagu, mereka cukup hanya dengan menjalankan beberapa software pada komputernya dan tekan tombol “Compose New Music”.

Para Pengusung “Tuna”

61McxkcnGEL._SL500_AA280_

Berikut adalah semua yang berpartisipasi dalam produksi album barunya Sherina Munaf … “Tuna” ((p) & (c) Trinity Optima Production, 2013)

SebelumSelamanya

Composed By                    : SherinaMunaf

Lyrics                                    : SherinaMunaf

Upright Bass                       : Rudy Zulkarnaen

Glockenspiel                      : Sherina

AcousticGuitar                  : Andre Dinuth

Percussion                          : Belanegara “Abe” Abimanyu

Piano                                     : HarisPranowo

Demi Kamu dan Aku (duet with  Afgan)

Composed By                    : SherinaMunaf

Lyrics                                     : SherinaMunaf, AfganSyahreza

AcousticGuitar                  : Donny Saputra

Upright Bass                       : Rudy Zulkarnaen

Piano                                     : HarisPranowo

Percussions                        : Belanegara “Abe”

Ada

Composed By                    : SherinaMunaf

Lyrics                                     : SherinaMunaf

Piano                                      : Nathania Karina

Akan Ku Tunggu

Composed By                    : SherinaMunaf

Lyrics                                     : SherinaMunaf

Upright Bass                       : Rudy Zulkarnaen

Glockenspiel                      : Sherina

AcousticGuitar                  : Andre Dinuth

Percussion                          : Belanegara “Abe” Abimanyu

Piano                                     : Yudhis

Tak UsahCemburu

Composed By                    : SherinaMunaf

Lyrics                                     : SherinaMunaf

Upright Bass                       : Rudy Zulkarnaen

Percussion                          : Belanegara “Abe” Abimanyu

Banjo                                    : Tiyan Nova, Yudha Steel

Fiddle                                    : HendriLamiri

Harmonica                          : Krisna Harmonica

Glockenspiel                      : Sherina

AcousticGuitar                  : Donny Saputra

Whistle                                 : Anton Jamaica Cafe

Apakah Ku Jatuh Cinta (duet with VidiAldiano)

Composed By                    : SherinaMunaf, VidiAldiano

Lyrics                                     : SherinaMunaf, VidiAldiano

Upright Bass                       : Rudy Zulkarnaen

Glockenspiel                      : Sherina

AcousticGuitar                  : Donny Saputra

Percussion                          : Belanegara “Abe” Abimanyu

Piano                                     : HarisPranowo

Alto Sax                                : Indra Aziz

Trumpet                              : Adi

Trumpet                              : Adi

Trombone                           : Tony

Flute                                      : Marini

Oboe                                     : Harianto

Saxophone                         : Indra Aziz

Impian “Kecil”

Composed By                    : SherinaMunaf

Lyrics                                     : SherinaMunaf

Upright Bass                       : Rudy Zulkarnaen

Glockenspiel                      : Sherina

AcousticGuitar                  : Andre Dinuth

Percussion                          : Abimayu “Abe” Belanegara

Male Vocal                          : AndreyNoorman

Vocal Edited by                 : YosuaSimanjuntak

Sing Your Mind

Composed By                    : SherinaMunaf

Lyrics                                     : SherinaMunaf

Piano                                     : Nathania Karina

AcousticGuitar                  : Donny Saputra

Choir                                     : BinaVokaliaPranadjaja

(RirinJuliawaty, DaffaPranadjaja, Mateo RakaArtanto, IhsanPrasetyoMulyo, M. Muflih H, NurhasnaAlifya, Aisyah Amelia, ImmaculataMaharanyaPawestriHerulakso)

Directed by                         : Citra Ambarsari

Additional Choir                : RizkiSjarif, AndreyNoorman, AnggaGustaman

Credits

All Music Produced by   : SherinaMunaf

All Songs Published by   : Trinity Optima Publishing

Producer                             : YonathanNugroho

A&R                                       : DwiAnandaSantoso&AndreyNoorman

Executive Producer         : Trinity Optima Production

Mixed by                             : EkoSulistiyo except “Demi Kamu Dan Aku” By Soundsgood

Mixed at                              : Aluna Studio

Mastered By                      : Gabriel Temmy

Mastered at                       : SumbeRia Suite Room

All Vocal Recorded at     : Brotherland Studio

Engineered by                   : RioEXO, OkiSMR, Jerry Simanjuntak

All Instrs.Recorded At    : Backbeat Studio except piano, banjo & strings section

Engineered by                   : Andi ‘Anggi’ Anggoro, Yusuf “Oetjoeps” Albantani,Satya

Piano Recorded At          : Musica Studio’s

Engineered by                   : Madi, Horas

Strings Arranged by        : SherinaMunaf&Alvin Witarsa

Violin 1                                  : Anders Hui, Ni Lan, XuHeng

Violin 2                                  : Katrina Rafferty, Yanice Tsang, Zhao Ying Na

Viola                                      : Alice Rosen, Li Ming

Cello                                      : Anna Kwan, Chen Yi Chun

Recorded At                       : Avon Recording Stereo, Hong Kong

Engineered by                   : Lee Wai Ming

Strings Supervisor            : AksanSjuman& Alvin Witarsa

Strings Edited by              : SherinaMunaf RioEXO, OkiSMR, Jerry Simanjuntak, Oetjoep

Mau dengar dulu sebelum beli? silakan cek disini  http://amzn.to/12rDFe1

Condet Punye Cerite : Kawasan Elite Betawi Jaman Baheula & Kompor Meleduk

Sadarkah warga Jakarte, lebih khususnya warga Condet, kalau di peta DKI Jakarta modern sekarang ini, tidak ada bilangan yang dikasih nama Condet ? Bak nama tokoh atau pahlawan nasional, cukup dikenal sebagai nama untuk dikenang, dan untuk mengenangnya dipampanglah  aksara JL. RAYA CONDET diatas papan hijau yang ditopang disebuah tiang.

Ya, hanya sebuah jalan raya.

Dalam sebuah artikel yang tersimpan di Perpustakaan Universitas Bibliotheek Leiden, tertera pembagian Wilayah Condet antara era abad XV hingga XIX menjadi 3 wilayah besar. Condet Hilir, Condet Udik dan Condet Girang. Wilayah-wilayah tersebut, merupakan kesatuan-kesatuan masyarakat yang masing masing mempunyai peran sosial yang menopang fungsi-fungsi kemaslahatan masyarakat Condet yang di era tersebut masih sangat kuat memegang teguh budaya luhur Padjadjaran “Silih Asah, Silih Asih Lan Silih Asuh”. Keteguhan para leluhur Condet yang senantiasa memperjuangkan pelestarian budaya tersebut memicu kekhawatiran tersendiri bagi Begawan Belanda. Bahwasanya budaya luhur tersebut menjadi ancaman laten bagi kepentingan Kolonial.

Propaganda demi propaganda dilancarkan. Tujuannya untuk mengikis budaya luhur tersebut. Dengan menyusupkan ide-ide ketidakpedulian, individualisme akan satu sama lain dalam kebhinekaan masyarakat Condet. Akhirnya masyarakat Condet terfragmentasi menjadi satuan-satuan primordialis etnis dan satuan-satuan relijius. Terbukti, setiap faksi yang berada dalam masyarakat Condet mempunyai kultus masing masing atas tokoh yang dihormatinya. Yang kini kita dapat lihat begitu banyak nama tokoh yang diabadikan menjadi nama jalan-jalan di Kawasan Condet. Padahal keberadaan nama-nama seperti Batu Alam, Batu Ampar dan Bale Kambang memberikan gambaran, bahwa kawasan ini tadinya merupakan sebuah kesatuan yang memiliki  ketahtaan.

1740-batavia_robert-sayer_circa-1740

Devide et Impera, nyata menghantui kawasan “elite” berperadaban maju (jauh lebih maju jauh sebelum adanya Batavia) nan diberikan berkah geografis yang strategis. Condet berdampingan dengan sodetan Kali Ciliwung dan terbentuk diketinggian kaki Gunung Salak. Ke-“Elite”-an kawasan  ini dapat disetarakan dengan sentra bisnis strategis di pusat kota, ataupun kawasan hunian mewah di selatan DKI Jakarta di jaman modern. Sebutlah bilangan Jakarta Kota, Tj. Priok, Jatinegara, Matraman, Pulo Gadung maupun Grogol, saat Condet memasuki masa jayanya, bilangan-bilangan tersebut masih berupa rawa-rawa, parit. Bahkan kawasan Kelapa Gading dan Sunter hanya sesekali terlihat menjadi daratan, yaitu saat kemarau tiba.

Jelas, Belanda tidak mau kehilangan pos keamanan bermenara yang bisa mengawasi lalu lintas Ciliwung dan sekaligus memiliki pandangan lepas memantau kapal-kapal dagang yang merapat di Teluk Jakarta/Sunda Kelapa. Para Kaum pedagang datang dari berbagai penjuru Nusantara dan dunia, menghidupkan kawasan Condet menjadi sebuah sentra bisnis yang ramai di era itu. Bukan hanya buah dan hasil bumi endemik saja, tapi berbagai bentuk pertukaran ekonomis lain juga terjadi. Jual beli tanah salah satunya. Mengingat tanahnya yang subur dan letaknya yang strategis, menarik minat para tuan tanah untuk memilikinya untuk keperluan bercocok tanam, maupun kegiatan perniagaan. Sebuah fakta yang menarik, dokumen tanah saat itu di wilayah hulayat penjajahan Belanda menyisakan surat partikelir dengan istilah For Founding (Surat Tuan Tanah/Garap) yang ditulis dalam bahasa belanda, namun tidak ditemukan di Condet. Justru yang ada adalah surat kepemilikan tanah yang disebut “Kikitir”, yang dituliskan dalam Bahasa Sunda.

Tidak kalah penting, ke-elite-an Condet juga mashyur diantara para ‘mujahid’ yang singgah dari Cirebon, Banten dan Bogor hingga mujahid dari seluruh Nusantara. Masih ada persinggahan-persinggahan para ‘mujahid’  yang bisa kita temui di daerah yang dulu disebut semenanjung Condet Girang di daerah Balekambang. Ada pula para ‘mujahid’ yang berjalan melalui jalan darat. Mereka biasanya mengawali perjalanannya  dari Condet Hilir yang kini kita kenal dengan Al-Hawi hingga Dewi Sartika. Dahulu tempat tersebut disebut sebagai Kampung Keramat yang jalannya terbagi menuju Pondok Gede dan Kampung Kranggan. Jalur tersebut kini kita kenal dengan Jalan Raya Bogor. Daerah yang disebut-sebut sebagai Condet Udik  sendiri adalah, jalur Ciliwung arah tanjung Barat menuju Keradenan Depok.

Pada abad XIX, sudah banyak terdapat makam leluhur, tokoh, mujahid yang ada disekitar Condet Girang, Condet Hilir dan Condet Udik. Tak sedikit tokoh/leluhur yang menyandang sebutan Datu’ atau Ki. “Datu’” disandang oleh pemangku adat asal, beliau dituakan karena pemahaman dan pengetahuan sosial, religi serta spritualitasnya menjadi panutan, bahkan tempat bertanya dan mencari kebijaksanaan. Sementara sebutan “Ki” berarti pemuka agama. Kini makam-makam tersebut menjadi situs-situs ziarah bagi para mujahid modern yang masih menyinggahi Condet.

Selain situs ziarah, masih banyak situs bersejarah Condet yang tersisa dan menyimpan banyak cerita mulai dari masa prehistoris (sebagaimana temuan artefak di bantaran Ciliwung Condet Girang yang telah diamankan di musium Keramik Jakarta) dan cerita perlawanan terhadap kolonial dari situs-situs yang dulunya menjadi landmark kawasan Condet. Salah satu situs yang menyimpan cerita-cerita perlawanan terhadap kedzoliman penguasa Hindia Belanda adalah Gedung disebut sebagai Vila Nova atau Groeneveld, tapi masyarakat Condet menyebutnya Gedung Ki Dek’le.

Gedung Ki Dekle ini dibangun tahun 1756 dan menjadi saksi bisu tirani penguasa Hindia Belanda hingga perlawanan masyarakat Condet bersama Haji Entong Gendut di tahun 1916. Sebagaimana situs-situs lain yang sudah mulai dilupakan, gedung tersebut tinggal reruntuhan. Hangus terbakar akibat ledakan kompor dari rumah warga sekitar.

Sumber : SaurAbah.Com

Mengapa Hari Ini Jadi Hari Radio Sedunia?

“Dalam dunia yang berubah dengan cepat, kita harus membuat sebagian besar kemampuan radio untuk menghubungkan orang-orang dan masyarakat, untuk berbagi pengetahuan dan informasi dan untuk memperkuat pemahaman.Hari ini Radio Dunia adalah momen untuk mengenali keajaiban radio dan memanfaatkan kekuasaannya untuk kepentingan semua, “kata Direktur Jenderal UNESCO, Irina Bokova dalam pesannya pada kesempatan Hari Radio Dunia pertama.

Pada tanggal 3 November 2011, selama 36 th General Conference, UNESCO mengakui “kekuatan transformasional radio” dengan mendirikanDunia Hari Radio pada tanggal 13 Februari, yang menandai hari ketika PBB Radio diluncurkan pada tahun 1946. Ide awal berasal dari Akademi Spanyol Radio dan secara resmi disampaikan oleh Delegasi Tetap Spanyol untuk UNESCO pada sesi 187 Dewan Eksekutif pada bulan September 2011.

Sejak siaran pertama lebih dari 100 tahun yang lalu, radio telah terbukti menjadi sumber informasi yang kuat untuk memobilisasi perubahan sosial dan titik sentral untuk kehidupan masyarakat. Ini adalah media massa yang mencapai penonton terluas di dunia. Dalam era teknologi baru, tetap platform dunia yang paling mudah diakses, alat komunikasi yang kuat dan media biaya rendah.

Teknologi radio, yang dimulai sebagai “telegrafi nirkabel,” berutang pembangunan untuk dua penemuan lainnya, telegraf dan telepon. Sejak akhir abad ke-19, ketika transmisi radio pertama yang berhasil dicapai dan sampai hari ini, radio tetap sebagai sarana penting komunikasi seperti biasa. Dengan munculnya teknologi baru dan media konvergensi, radio sedang berubah dan bergerak ke platform pengiriman baru, seperti ponsel internet broadband, dan tablet. Dalam era digital, radio terus menjadi relevan, karena orang digital mendengarkan melalui komputer, radio satelit dan perangkat mobile.

Radio sangat cocok untuk menjangkau masyarakat terpencil dan terpinggirkan, sekaligus menawarkan platform untuk berbagi informasi dan mempromosikan debat publik. Radio memainkan peran penting dalam komunikasi darurat dan bantuan bencana. Hal ini juga salah satu cara yang paling penting untuk memperluas akses ke pengetahuan, mempromosikan kebebasan berekspresi serta mendorong rasa saling menghormati dan pemahaman multikultural.

Dunia Hari Radio bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya radio, untuk mendorong para pembuat keputusan untuk menyediakan akses ke informasi melalui radio dan meningkatkan jaringan dan kerjasama internasional antar lembaga penyiaran.

Resolusi ini sedang diajukan ke Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa ‘, pada sesi ke-67 pada bulan September 2012, untuk disahkan.

Sumber : UNESCOPRESS http://bit.ly/XyzVqN